by

Sahabat APVI Siap Ciptakan Iklim Kondusif Industri Vape Indonesia

Oleh: Hasiholan Manurung

Vape masuk Indonesia mulai tahun 2012, namun kehadiran vape tidak langsung terkenal seperti rokok konvensional karena kurangnya pengetahuan orang Indonesia tentang vape. Seiring berkembangnya zaman, vape terus berkembang di Indonesia karena banyaknya masyarakat Indonesia yang pergi melancong ke luar negeri sehingga mereka kembali ke Indonesia membawa vape dan memperkenalkannya di daerahnya masing-masing sehingga banyak orang yang beralih dari rokok konvensional ke vape (rokok elektrik) dan menjadikan permintaan vape di pasaran meningkat pesat sampai tahun ini.

Pengguna vape diwajibkan berusia 18 tahun keatas. Mayoritas pengguna vape dari umur remaja (minimum 18 tahun) sampai umur dewasa. Assosiasi kami menghimbau keras Aturan 18+ itu dari mulai pelaku industrinya sampai penggunanya.

Alasan utama menggunakan vape adalah untuk membantu berhenti merokok. Ada pun pengguna ganda (vape dan rokok) nampaknya memiliku alasan utama, yakni dalam rangka mengurangi jumlah rokok konvensional yang dihisap, dan pula diikuti untuk menghemat uang.

Vaping tidak bebas dari risiko. Tetapi jauh lebih kecil risikonya dibandingkan merokok, yang membunuh ribuan orang per tahunnya.

Saya menggunakan vape sudah 5 tahun sejak 2013 akhir, dan alhmdulillah hasil cek kesehatan saya mengenai paru-paru dan jantung tidak ada masalah. Bisa saya buktikan.

Vape sudah menjadi kebutuhan sekunder saya. Dan saya himbau untuk mantan perokok yang sudah terkena penyakit akibat merokok seperti paru, jantung dan lainnya, agar lebih baik tidak disarankan untuk beralih ke vape. Jangan sampai mengira bahwa vape yang jadi disalahkan apabila terkena serangan jantung atau paru dan lainnya oleh si penderita karena sudah ada penyakit bawaan sebelum beralih ke vape, akibat kebiasaan merokok. Belum ada hasil riset yang jelas di Indonesia dan belum ada pembuktiannya akibat vape menyebabkan kematian.

Kalau dibilang gaya hidup betul juga karena kita sudah pasti ingin merubah gaya hidup dari resiko kesehatan yang besar menjadi lebih kecil resikonya.

Vape jangan sekali kali dikaitan dengan Narkoba. Jangan disalahkan vape-nya, tapi salahkan oknum yang menggunakan vape sebagai alat Narkoba. Dan itu sudah menjadi alat Narkoba bukan alat vape lagi. Seperti botol minuman yang dipakai buat alat hisap Narkoba. Bukan sebagai botol minuman lagi melainkan alat Narkoba. Kami juga mempunyai organisasi RELEVAN (Relawan Vape Anti Narkotika ) yang fokusnya lebih ke pencegahan bahaya narkotika.

(*) Penulis adalah Ketua Sahabat Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia

Comment

News Feed