by

Menjaga Etika Budaya Dalam Perspektif Di Sepakbola

RUANGINDONESIA.COM – Sejatinya sepak bola merupakan olahraga paling difavoritkan oleh masyarakat dari berbagai elemen, mulai dari kalangan atas sampai yang paling kelas bawah sekalipun di segala penjuru dunia. Di negara Indonesia sendiri, hanya sepak bola yang mampu menyatukan kalangan masyarakat di tengah terpaan isu perpolitikan didalam negeri.

Pasca di bekukannya PSSI oleh badan asosiasi sepakbola dunia FIFA. Timnas Indonesia sendiri pada ajang bergengsi 2 tahunan ini(Piala AFF) telah mampu menembus babak final 5x sejak digulirkannya Piala bergengsi di negara ASEAN tersebut tahun 1996. Pada perhelatan piala AFF 2016 saja Timnas kembali menembus partai final, bak gayung bersambut hal tersebut mampu menjadi oase ditengah gurun isu perpolitikan di dalam negeri. Hal ini pun pernah diutarakan oleh ketua PSSI pertama, Bapak Ir.Soeratin Sosrosoegondo mengatakan bahwa sepak bola merupakan alat perjuangan Bangsa, yang harus dilakukan bersama-sama.

Sejak dahulu hingga dewasa ini, sepak bola di Indonesia mempunyai pemahaman sedikit berbeda. Di beberapa daerah yang yang mempunyai tingkat fanatisme tinggi terhadap tim lokalnya, cenderung lebih mudah terbawa hegemoni tersendiri.

Secara harfiah mengawal kebanggan klub lokal menjadi sebuah kebanggaan atau pride tersendiri. Dalam perspektif lainnya sepak bola bisa dikatakan berada 1 tingkat dibawah agama, slama kita yakin mengimani club itu, apapun akan ditempuh meski terkadang bersimpuh darah.

Mensupport klub lokal kebanggan dengan segenap cinta dan dedikasi menjadi sangat trend. Rivalitas ditubuh sepakbola lokal tak bisa dihindari berangkat dari popularitas kedaerahan menjadi barometer tersendiri untuk mendukung klubnya.
kultur tersebut yang diterapkan sepakbola di Indonesia dan membawa gairah pada kontestasi antar klub lokal sepakbola di Indonesia.

Dilain hal dalam dunia para suporter terkadang membuat aturan tersendiri. aturan ini tidak akan pernah dijumpai dimanapun, hanya melalui kesadaran masing-masing serta saling menjaga dan menghargai satu dengan lainnya. Semisal suatu kelompok mengawal klubnya ke kota lain, suporter tuan rumah menyambut dengan berbagai kuliner khas kota tersebut. Aturan ini berlaku sebaliknya jika ada tuan rumah di kemudian hari akan bertandang ke kota tamunya. Semua saling menjadi tradisi dan silahturahmi.

Pada poin ini, Sepakbola di Indonesia seharusnya bisa menjadi miniatur dari bingkai NKRI itu sendiri. Indonesia telah dikenal luas di mata dunia dengan budaya yang menjunjung tinggi ramah tamah, etika dan sopan santun. Nilai budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi persaudaraan, saling menghormati, dan menghargai orang lain sangatlah erat.

Namun, dalam perkembangan teknologi beberapa tahun terakhir budaya keramahan dan sopan santun di Indonesia nampaknya mengalami penurunan senada dengan hal ini dapat dilihat oleh beberapa supporter yang sering terpancing oleh berbagai macam bentuk provokasi via elektronik. Sehingga seringkali menimbulkan percikan riak hingga ombak. Guna menghadapi arus globalisasi dalam dunia supporter memang harusnya diimbangi dengan tingkat wawasan dan kepekaan dalam cakupan ini berupa memanage diri sehingga baik input pun output-nya dapat menghindari hal bernada provokatif, dikarenakan hal tersebut hadir dari mana saja dan berbentuk apapun.

Dengan begitu akan paham mana yang baik mana yang buruk. Dapat berpikir lebih cerdas dan matang serta beretika. Terlebih lagi rivalitas hanya 90 menit yang digaungkan oleh berbagai pihak harusnya menjadi trademark positif, mengingat budaya Indonesia sendiri yang sarat akan saling menghargai dan kekeluargaannya seharusnya dapat menjadi ikatan kuat persaudaraan dan pemersatu antar sesama supporter di bumi pertiwi. (Ari/RI)

Comment

News Feed