by

Kepala Sman 17 Kota Bekasi Didemo Anak Didiknya

-Pendidikan-60 views

RUANGINDONESIA.COM – Sekolah sebagai tempat untuk mendidik dan menimba ilmu bagi anak didik tentu harus jauh dari kepentingan-kepentingan yang dapat mencoreng wajah anak dan sekolah itu sendiri, seperti tawuran, demo ataupun mogok kesekolah ramai-ramai.

Untuk mencegah hal tersebut, sekolah dan Pemerintah setempat, melalui Dinas Pendidikannya terus berbenah guna melengkapi sarana dan prasarana pendidikan diwilayahnya masing-masing.

Namun disamping itu semua, Kepala Sekolah selaku penanggung jawab sekolah harus mampu menyelesaikan persoalan yang ada di instansinya guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Namun diatas itu semua, tetap saja ada yang gagal untuk melakukan itu semua.

Seperti yang baru-baru ini terjadi di SMA Negeri 17 Kota Bekasi. Dimana guru honorer bersama anak didik mendemo Kepala Sekolahnya pada Jumat (28/9/2018) siang tadi.

Ditengarai, aksi demo itu dilakukan sebagai protes anak didik kelas Kepala Sekolah karena tidak membayarkan gaji guru honorer yang menjadi tenaga pendidik disekolah tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Hary Panzila, Kepala Cabang Dinas ( KCD) Wilayah III Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sangat menyayangkan aksi guru honorer di SMAN 17 kota Bekasi. ”Seharusnya setiap tenaga pendidik harus mampu memberikan contoh kepada ana-anak didik bahwa lingkungan sekolah sebagai tempat para anak didik mencari ilmu pengetahuan serta tempat pembentukan karakter generasi bangsa Sekolah adalah tempat untuk menyiapkan calon pemimpin bangsa”, kata dia.

“Apalagi unjuk rasa itu dilakukan didalam lingkungan sekolah dan dilakukan pada saat jam belajar. Lingkungan sekolah sebuah lingkungan untuk mendidik para genersi bangsa sangat berbeda dengan lembaga yang lain. Sekolah adalah tempat untuk mengajarkan kebaikan”, lanjut Hary Panzila.

Menurutnya, kejadian tersebut akan menimbulkam efek negatip kepada anak didik. “Setiap individu yang telah bekerja dilingkungan sekolah apapun statusnya harus mampu memberi teladan dan menjadi panutan anak didik apa jadinya pendidikan kalau setiap pesoalan dilakukan unjuk rasa “ kata Hary Panzila, lagi.

Oleh sebab itu, menurutnya, sebagai pendidik adalah kaum intelektual harus mengedapankan pola pikir yang jernih bila ada persolan didalam sekolah dapat dikomonikasikan dengan kepala sekolah ,kalau tidak puas dengan kebijakan kepala sekolah dapat dikomonikasi dengan dengan atasan.

” Seharusnya kalau ada persoalan, sekolah harus dapat membicarakannya dengan kepala sekolah dan kalau hasil pembicaraan dengan kepala sekolah belum memuaskan dapat disampaikan ke jenjang yang lebih atas kan ada KCD. Tidak dengan unjuk rasa”, ungkap dia.

Senada dengan Kepala KCD Provinsi Jawa Barat, kepala sekolah SMAN 17 Kota Bekasi, Waluyo juga sangat menyayangkan aksi unjuk rasa yang dilakukan dilingkungan sekolahnya itu. Menurutnya, keterlibatan anak didik dalam aksi unjuk rasa karena mereka ada yang memprokasi.

“Seharusnya sebagai tempat pendidikan, sekolah harusnya steril dari aksi unjuk rasa. Tadi juga ada aparat keamanan dari kepolisian yang datang ke sekolah. Aparat juga menyampaikan agar aksi unjuk rasa tidak dilakukan di tempat sekolah “ kata Waluyo.

Seharusnya permasalahan-permasalahan yang terjadi di lingkungan Sekolah SMAN 17 Kota Bekasi bisa di bicarakan dan didiskusikan bersama-sama,tidak perlu mengelar aksiunjuk rasa. Dirinya pun menyayangkan terjadinya aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para guru yang melibatkan para siswa terhadapnya.

“Segala permasalahan, seharus bisa dibicarakan bersama. tidak perlu melakukan aksi unjuk rasa di jam sekolah Saya sangat menyayangkan hal ini terjadi,” kata Waluyo. (bon/ri)

Comment

News Feed