by

Bandeng Rorod, Bandeng tanpa Duri nan Laziz dari Bekasi

Dengan menggandeng PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), Bandeng Rorod cetak omzet Rp40 juta per bulan. Selain isi Bandeng yang gurih, Bandeng Rorod tanpa duri juga bisa dikreasikan dengan masakan lain.

Laporan : Riskha Ayu Rindiatika

Siapa yang tak kenal Bekasi, wilayahnya yang secara geografis bersebelahan dengan Ibu Kota Negara, DKI Jakarta, membuat Bekasi diserbu sebagai daerah rujukan dalam beberapa hal.  Selain sebagai daerah pemukiman, Bekasi juga merupakan daerah industri terbesar se-Asia Tenggara. Di tengah gempuran laju perekonomian dan pembangunan, Bekasi tetaplah daerah yang kaya akan budaya dengan beragam pilihan makanan khas.

Jika Anda berkunjung ke Bekasi, pastikan Anda pulang membawa oleh-oleh khas Bekasi, Bandeng Rorod. Bandeng Rorod yang diproduksi oleh Pak Afif Ridwan bersama istrinya, Yesi Herawati ini adalah satu-satunya olahan Bandeng yang ada di Bekasi.

Apa itu Bandeng Rorod?

Bandeng Rorod adalah ikan bandeng yang diolah melalui beberapa kali tahapan sehingga didapatkan Bandeng tanpa duri dengan cita rasa rempah yang khas. Bandeng tanpa duri ini bukanlah Bandeng yang dipresto seperti kebanyakan daerah lain. Kata Rorod diambil dari bahasa Bekasi yang berarti ditarik.

Tahap pertama pembuatannya, Bandeng dikeluarkan isi perutnya hingga bersih. Lalu ekor Bandeng dibuang. Setelah itu, dari bagian kepala tulang inti Bandeng ditarik hingga keluar. Dari tahap penarikan itulah muncul istilah Rorod (ditarik, red) yang akhirnya dijadikan nama produk yaitu Bandeng Rorod.

Tahap kedua adalah tahap pengeluaran daging Bandeng, setelah daging dikeluarkan lalu dimasukkan ke dalam mesin yang secara otomatis mampu memisahkan daging dari tulang halus Bandeng.

Tahap ketiga adalah memasak daging dengan dicampur rempah-rempah rahasia untuk nantinya dimasukkan kembali ke dalam tubuh Bandeng.

Tahap keempat, pengukusan Bandeng selama 2 jam. Dalam tahap ini Bandeng akan matang keseluruhan, sehingga Bandeng Rorod bisa awet selama 24 jam saat berada di suhu ruang. Sementara, jika diletakkan di dalam freezer mampu bertahan 6 bulan.

Tidak hanya Bandeng Rorod yang dibanderol dengan harga Rp28 ribu, olahan Bandeng pun disajikan dalam bentuk Steak Bandeng isi 4 buah dengan harga Rp28 ribu, Batik Bandeng (Bakso Tahu Ikan Bandeng) isi 6 buah dengan harga Rp28 ribu, dan Ciban Goang (Cilok Bandeng Ikan Goang) yang dibanderol dengan harga lebih murah Rp20 ribu isi 15 buah.

TANPA DURI : Bandeng Rorod tanpa duri ini tetap lezat meski hanya digoreng saja.

 

STEAK BANDENG : Steak Bandeng isi empat ini bisa didapatkan hanya dengan harga Rp28 ribu saja.

 

BATIK BANDENG : Batik Bandeng (Bakso Tahu Ikan Bandeng) isi enam buah ini memadukan tahu dengan Bandeng menjadi olahan cemilan.

 

CILOK BANDENG : Ciban Goang (Cilok Bandeng Ikan Goang) yang dibanderol dengan harga lebih murah Rp20 ribu isi 15 buah ini cocok dijadikan cemilan.

Omzet Melonjak Berkat Pesona JNE

Bandeng Rorod yang saat ini sudah menjadi hits itu bukanlah tanpa sejarah, sebelum menjadi tenar seperti saat ini usaha Bandeng Rorod hanya olahan Bandeng biasa yang dijual di rumah makan Betawi yang juga menyajikan berbagai kudapan makanan khas Bekasi lainnya di Jalan Maluku Raya I, Perumnas 3, Arenjaya, Bekasi Timur. Afif yang saat itu usahanya mengalami penurunan omzet, memberanikan diri untuk mencoba bisnis baru dengan tetap mengandalkan menu utamanya, yaitu Bandeng.

Bermodal uang Rp2 juta dan resep andalan Ibu Siti Rohmani atau yang biasa disapa Mpok Omah, di tahun 2013 Afif dan istri mulai mengemas Bandeng Rorod. Memasarkan dari mulut ke mulut dan ikut serta dalam berbagai event pemerintah yang melibatkan pelaku UMKM. Sadar akan harga Bandeng Rorod yang tidak murah, Afif dan istri pun memasarkannya melalui akun media sosial facebook Oleh-Oleh Khas Bekasi Bandeng Rorod, Twitter @mpokomah, dan Instagram bandengrorodoficial. Melalui media sosial itulah usaha Bandeng Rorod Afif dan istri dikenal di seluruh pelosok di Indonesia.

“Kalau hanya memasarkan dari mulut ke mulut usaha ini susah maju, karena memang target marketnya menengah ke atas. Dengan harga yang saya tetapkan, saya sulit masuk ke pasar tradisional,” terang Afif, ditemui di rumahnya saat tengah memproduksi Bandeng Rorod, Sabtu (22/09/2018).

Di awal usahanya omzet Afif dan istri tidak sampai Rp10 juta. Afif adalah salah satu pengusaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang turut merasakan manfaat dari berkembangnya e-Commerce. Pada tahun 2014, usaha Afif berkembang perlahan seiring dikenalnya Bandeng Rorod melalui akun medsos yang dikelolanya. 70 persen transaksi pembelian Bandeng Rorod disumbang oleh transaksi online.

Dalam pengiriman produk, sejak tahun 2013 Afif dan istri mengandalkan jasa pengiriman logistik PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Hampir 40 persen penjualan Bandeng Rorod setiap bulan dikirim melalui JNE.

Omzet Afif dan istri meningkat tajam hingga menyentuh angka Rp40 juta per bulan Setelah bergabung di Pesona (Pesanan Oleh – Oleh Nusantara) yaitu produk JNE yang mendekatkan diri kepada pelaku UMKM, baik lokal maupun Nasional, dimana dalam layanan ini banyak pelaku UMKM yang memasarkan dagangannya.

“Omzet meningkat tajam setelah bergabung di Pesona, menurut saya layanan Pesona ini unggul. Hanya saja belum banyak diketahui oleh masyarakat. Di Pesona ini kan ditunjang oleh perusahaan logistiknya sendiri yaitu JNE, sehingga barang dipastikan akan sampai selamat dan cepat sesuai dengan estimasi waktu. Kelebihan lainnya adalah barang yang akan dikirim dijemput langsung oleh JNE, ini sangat memudahkan pelaku usaha,” terang ayah dari dua anak, Ahmad Zakir Ridwan (22) dan Rifda Nabila (20).

Pesanan Bandeng Rorod membludak dari Pesona saat hari besar tiba, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Jika di hari biasa Afif hanya mengolah 30 Kg Ikan Bandeng, pada hari besar ia bisa mengolah sampai 50 Kg Ikan Bandeng yang 40 persen di antaranya diorder pembeli melalui Pesona.

“Di Pesona JNE, pembeli bisa memilih dua paket Bandeng Rorod. Paket 1 isi 3 boks ikan Bandeng dan Paket 2 isi 5 boks ikan Bandeng. Ini keduanya kemasan ekonomis, beratnya 1 Kg. Ongkos kirimnya juga tidak mahal, sesuai domisili pembeli,” terangnya.

Selain dari Pesona, Afif juga kerap kali menerima pemesanan online dari akun media sosial. Untuk menunjang aktifitas jual beli online-nya, Afif tetap mengandalkan JNE untuk pengiriman Bandeng Rorod. Pengiriman ke luar pulau, Afif biasa menggunakan JNE paket YES (Yakin Esok Sampai) yang ia percaya bisa mengantarkan paket Bandeng Rorod dalam waktu 24 jam saja.

Tidak bergerak sendirian, Afif juga melibatkan banyak reseller untuk memasarkan produknya. Tercatat saat ini Afif memiliki lebih dari 100 reseller yang secara aktif turut terlibat dalam pemasaran Bandeng Rorod.

Reseller bisa mengambil Bandeng Rorod dengan harga murah, 25 boks saya beri harga satuan Rp23 ribu, 50 boks Rp21 ribu dan 100 boks Rp19 ribu. Modal awal untuk menjadi reseller hanya Rp1.050.000 saja. Reseller saya bisa menyumbang 20 persen dari omzet saya per bulan,” tambahnya.

Selain itu, beberapa rumah makan di Kota Bekasi juga berlangganan Bandeng Rorod untuk menjadi menu favorit. Afif mengakui bahwa peran serta JNE dalam membesarkan usahanya begitu besar. Transaksi perdagangan yang hari ini menjadikan jejaring internet sebagai primadona dimanfaatkan Afif dan istrinya dengan baik, tentunya dengan dukungan JNE yang melalui produk unggulannya turut mendukung secara massif terhadap bergeraknya perekonomian lokal dan Nasional.

Di usianya yang akan menginjak 28 tahun, 26 November mendatang, Afif berharap JNE akan terus mengepakkan sayapnya di bisnis logistik Indonesia. Dengan begitu, manfaat JNE akan bisa dirasakan terus oleh banyak pelaku e-Commerce di Indonesia.

“JNE sudah banyak membantu saya dalam memasarkan Bandeng Rorod, memberi pelayanan yang optimal. Sejauh saya bekerjasama dengan JNE dalam pengiriman barang, saya tidak pernah memiliki complain, semua berjalan lancar dan memuaskan. Terimakasih JNE,” tutupnya. (*)

 

Comment

News Feed