by

Wakil Ketua KPAD, Rury : Peran Orangtua dan Sekolah Penting Bagi Siswa

-Headline-89 views

RUANGINDONESIA.COM – Kasus tawuran antarsekolah yang memakan satu korban jiwa di wilayah Bantargebang Kota Bekasi, pada Kamis lalu (16/08/2018) menjadi perhatian bagi banyak kalangan. Pasalnya, para pelajar tersebut rata-rata di bawah umur.

Kini, para pelaku tawuran sudah diamankan pihak kepolisian, kelima pelaku itu berinisial A, MS, DAR, RP dan MAS. Bukan hanya korban jiwa, tawuran yang terjadi di Jalan Raya Sumurbatu, Bantargebang itu ternyata memakan korban luka berat juga.

Wakapolres Metro Bekasi Kota, AKBP Wijonarko mengatakan, aksi tawuran itu melibatkan dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta, yaitu SMK PA dan SMK KBM. Selain menangkap kelima pelajar, kata Wijonarko, pihaknya juga mengamankan alat bukti berupa senjata tajam, meliputi 3 buah celurit berukuran besar dan 1 buah stik golf serta 5 buah handphone genggam yang berisi bukti riwayat chatting para pelaku.

“Awalnya para pelaku-pelaku ini memang sudah sepakat untuk melakukan aksi tawuran yang dimulai dari WhatsApp. Kemudian mereka saling menunggu dan akhirnya terjadilah aksi tawuran,” ujar Wakapolres Metro Bekasi Kota, AKBP Wijonarko saat menggelar konferensi pers di Mabes Polres Metro Bekasi Kota, kemarin (Selasa-28/08/2018).

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua KPAD Kota Bekasi, Rury Arief Rianto menuturkan, hal seperti ini jangan sampai terulang kembali. Ini sudah mencoreng dunia pendidikan. Ia berharap peran serta semua lapisan masyarakat, pemerintah daerah dan kepolisian dapat menekan aksi tawuran yang memakan korban hingga menghilangkan nyawa seseorang.

“Itu semua tanggung jawab kita bersama untuk menjaga lingkungan. Kalau hanya pemerintah daerah dan kepolisian yang berperan namun masyarakatnya tidak, itu salah juga. Jadi harus semua berperan demi menjaganya,” tutur Rury.

Sekolah menurutnya bertanggung jawab pula atas tindakan yang dilakukan para siswanya, meskipun sudah di luar jam sekolah. Karena bimbingan dari sekolah, kata dia, sangat penting agar siswa melakukan kegiatan-kegiatan yang positif.

“Menjadi tanggung jawab sekolah dan orangtua. Karena orangtua yang lebih mengetahui anak ketika berada di lingkungan. Namun sekolah tidak boleh lepas juga dari tanggung jawab tersebut,” tegasnya.

Faktor yang mempengaruhi siswa melakukan aksi tawuran, tambah Rury, di antaranya mencari perhatian, mengikuti keadaan lingkungan, baik di sekolah maupun lingkungan rumahnya dan faktor ekonomi orangtua.

“Ketika orangtua cuek atau masa bodo dengan anaknya, maka anak akan mencari perhatian untuk diperhatikan. Nah, bila positif dengan prestasi itu bagus, tapi bila negatif seperti tawuran bagaimana?,” tutup Rury.

(ras)

Comment

News Feed