by

Aksi Tawuran Pelajar di Bekasi, Dinilai Kurangnya Pendekatan Orangtua & Guru Terhadap Psikologis Anak

-Headline-65 views

RUANGINDONESIA.COM – Direktur Jenderal (Dirjen) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KemenkumHAM) Republik Indonesia (RI), Bambang Iriana menyebut aksi tawuran di Bekasi lantaran kurangnya pendekatan psikologis terhadap anak.

“Ini sangat rumit untuk masalah tawuran, karena ini bukan hanya kegagalan di pendidikan atau di sekolah, tetapi karena banyak faktor. Salah satunya psikologis anak,” ujar Bambang saat ditemui di Hotel Santika Mega Mall Bekasi, Rabu (29/08/2018).

Menurutnya, faktor lain yang mempengaruhi anak untuk melakukan tindakan-tindakan ekstrem seperti tawuran ialah faktor orangtua, kondisi keluarga, dan lingkungan.

“Ya misalnya anak-anak yang memang datang dari keluarga tidak mampu, kondisi rumah atau lingkungan, atau orangtua yang bermasalah juga. Serta masalah psikologis anak-anak remaja atau di usia SMA yang memang ingin menunjukkan jati diri,” bebernya.

Selain itu, sistem pendidikan formal yang justru membuat anak tertekan ketika berada di dalam lingkungan sekolah, juga menjadi salah satu faktor timbulnya pemberontakan terhadap anak.

Anak yang terbebani dengan mata pelajaran atau tuntutan untuk menguasai sejumlah pelajaran, misalnya Matematika, Biologi, Fisika dan lain sebagainya serta adanya pekerjaan rumah membuat anak merasa dihantui.

“Jadi, complecated sebenernya, dan psokologis juga mempengaruhi. Yang perlu dilakukan ialah sistem pendidikan kita yang harus diperbaiki. Para pendidik harus bisa mengubah suasana sekolah menjadi lebih nyaman oleh anak, bukan justru malah menimbulkan beban anak,” lanjutnya.

Untuk itu kata Bambang, dibutuhkan ruang lebih dalam proses belajar untuk bisa mengeksplor minat anak di dalam lingkungan sekolah. Seperti memperbanyak aktivitas belajar di luar kelas atau menciptakan aktivitas yang berhubungan dengan eksperimen.

“Karena anak itu beda-beda ya. Ada yang lebih suka bereksperimen, bereksplorasi, menemukan hal-hal baru, bukan hanya sebatas teori atau pendidikan formal,” pungkasnya.

(red)

Comment

News Feed