by

H-2 Hari Jadi Republik Indonesia: Tugu Perjuangan Alun-Alun Bekasi bak Toilet Umum!

-Opini-21 views

RUANGINDONESIA.COM – Anda anak nongkrong di Kota Bekasi? Atau hobi kulineran di Alun-Alun Kota Bekasi? Pasti Anda khatam seluk beluk Alun-Alun Kota Bekasi. Tepat di sebrang Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi, berdiri bangunan bersejarah yang mengandung nilai patriotisme yang tinggi. Sejarah mencatat, ia bernama Tugu Perjuangan Rakyat Alun-Alun.

Di tubuh badan tugu tercatat, “Pembuatan monumen ini diprakarsai oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam rangka memperingati HUT RI ke-10 dan HUT ke-5 Kabupaten Bekasi dan diresmikan pada 5 Juli 1955. Pembuatannya berkaitan dengan beberapa peristiwa yang terjadi di Bekasi, di antaranya peristiwa bulan Agustus dan peristiwa awal Februari 1950.”

Informasi singkat itu tak mampu menggambarkan apa-apa, terlebih nilai perjuangan yang ada di dalamnya. Tugu itu didirikan saat Bekasi belum lama mengubah nama dari Kabupaten Jatinegara menjadi Kabupaten Bekasi pada 1950. Sementara Pemerintah Kota (administratif) Bekasi baru lahir pada 1981 dan diresmikan setahun setelahnya.

Pendirian tugu berbentuk segi lima sebagai perlambang Pancasila itu dilatarbelakangi tiga kisah historis.

Pertama, peristiwa penyebaran kabar proklamasi 17 Agustus 1945 kepada penduduk Bekasi. Di alun-alun itulah kabar itu disebarluaskan oleh para pemuda Bekasi yang sebelumnya mendapat kabar dari Jakarta secara berantai.

Awalnya, pada 16 Agustus 1945 para pemuda pelopor dari Jakarta datang ke Bekasi, mengabarkan bahwa tanggal 17 Agustus di Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas) akan berlangsung rapat raksasa. Maka berangkatlah para pemuda Bekasi. Namun setibanya di Jakarta, mereka dapat kabar rapat di Ikada tak jadi dilaksanakan, hingga (proklamasi) dialihkan ke Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Setelah mereka kembali ke Bekasi, mereka menyebarluaskan berita itu kepada masyarakat.

Peristiwa kedua, pertempuran antara serdadu Sekutu dan NICA (Belanda) melawan para pejuang di Alun-Alun Bekasi. Pertempuran tak seimbang itu memaksa garis pertahanan laskar dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) mundur hingga bantaran timur Kali Bekasi. Pertahanan di Bekasi yang acap disebut “Gerbang Republik” di masa itu akhirnya jebol pada Agresi Militer I, 21 Juli 1947.

Peristiwa ketiga berkaitan dengan berdirinya Kabupaten Bekasi yang mandiri. Pendirian itu bermula dari rapat umum di Alun-Alun Bekasi yang dihadiri elemen tokoh dan masyarakat Bekasi, termasuk ulama-pejuang KH. Noer Ali. Rapat yang menghasilkan “Resolusi Rakyat Bekasi” itu dibawa Panitia Amanat Rakyat Bekasi ke Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (RIS) sekaligus Wakil Presiden RI Mohammad Hatta.

Pemerintah pusat mengabulkan permintaan warga Bekasi. Daerah Bekasi yang tadinya merupakan bagian dari Kabupaten Jatinegara, sejak itu berubah jadi Kabupaten Bekasi dengan “payung” Undang-Undang Nomor 14 tahun 1950 tertanggal 15 Agustus 1950. Tanggal itu lalu dijadikan hari lahir Pemkab Bekasi.

Tiga peristiwa yang teramat penting bagi Bekasi itu, nyatanya tak cukup menumbuhkan kesadaran di masyarakat dan pemerintah. Tugu Perjuangan Alun-Alun hari ini bak toilet umum yang digunakan oleh manusia-manusia bermental lemah.

Jika siang tiba, tempat ini dijadikan tempat istirahat kaum tunawisma untuk tidur. Menjelang senja menuju malam, pasangan kekasih pun berbondong-bondong memadu kasih di sekitar Tugu Perjuangan Alun-Alun. Dengan penerangan yang minim, tempat ini pun rentan akan tindakan asusila.

Jika Anda berkunjung ke Tugu Perjuangan Alun-Alun ini, Anda akan mencium bau urine yang menganggu pernafasan. Untuk sekedar berfoto-foto pun, Anda harus kuat-kuat menahan nafas. Belum lagi sampah yang bercecaran dimana-mana, juga ulah tangan-tangan kreatif tak tepat ruang yang memenuhi badan Tugu. Pribadi-pribadi tak bertanggungjawab, nyatanya tumbuh dan berkembang sejalan dengan pembangunan gedung-gedung tinggi yang tak disertai kesadaran sejarah masyarakatnya.

Apa yang terpikir dari generasi milineal hari ini?

Melihat Tugu Perjuangan Alun-Alun, tempat ini sangat mumpuni dijadikan tempat para komunitas untuk berkumpul dan berlatih. Menengok Taman Suropati Jakarta, bukan tidak mungkin Tugu Perjuangan Alun-Alun disulap menjadi serupanya.

Begitu mudah mewujudkannya, Pemerintah hanya butuh sedikit bekerja untuk merevitalisasi bangunan, juga mengelola Tugu Perjuangan Alun-Alun dengan membentuk struktur penanggungjawab. Dan, masyarakat hanya butuh kesadaran untuk menjaga Tugu bersejarah tersebut. Saling sambut melestarikannya, dan berani menindak siapa pun yang mencederainya.

Berbeda dari beberapa minggu lalu, dimana Tugu Perjuangan Alun-Alun teramat kumuh. Hari ini, ia dipercantik dengan polesan cat baru. Ya, begitu kebiasaan yang ada selama ini. Mendadak cantik menjelang Hari Besar Kebangsaan.

Tugu Perjuangan Alun-Alun yang selalu mengalami perbaikan seperti pengecatan ulang misalnya, nyatanya tak memberi nilai apa-apa. Tidaklah cukup sampai pada pengecatan, Tugu Perjuangan Alun-Alun mesti dilestarikan dengan pemberdayaan. Bagaimana Tugu Perjuangan Alun-Alun berdaya untuk menjadi tempat belajar? Bagaimana Tugu Perjuangan Alun-Alun berdaya menumbuhkan spirit patriotisme? Bagaimana Tugu Perjuangan Alun-Alun gegap gempita hidup di antara gedung-gedung komersil di sekitarnya?

Tentu sehebat apapun pemerintah yang telah membangun infrastruktur bagi rakyat. Sesering apa pun membangun gedung apartemen dan pusat perbelanjaan. Seberhasil apa pun memberi jaminan kesehatan bagi rakyat. Betapa tak bernilainya, jika sejarah terlupakan, terbengkalai, dan terhina.

Relakah  Tugu Perjuangan Alun-Alun menjadi toilet umum? Tentu, mestinya jiwa patriotisme masyarakat Bekasi tak seharga toilet umum! 2 ribu rupiah saja!

(ich)

 

Comment

News Feed